Taman Sari Waterfall di Gianyar membuktikan bagaimana keindahan alam dapat mendorong ekonomi dan memberdayakan masyarakat lokal.
Di tengah pariwisata Bali yang sering dinikmati segelintir pihak, muncul kisah inspiratif dari Gianyar. Taman Sari Waterfall bukan sekadar air terjun, tetapi motor ekonomi bagi warga. Objek wisata ini membuktikan pariwisata bisa kembali ke masyarakat, mengubah nasib dan memperkuat tradisi lokal secara berkelanjutan.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Bali di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Bali Indonesia.
Berkah Pariwisata Langsung ke Kantong Warga Ngenjung Sari
Krama Banjar Adat Ngenjung Sari, Desa Bakbakan, Gianyar, kini tidak lagi menjadi penonton pasif hiruk pikuk pariwisata Bali. Berkat pengelolaan Taman Sari Waterfall, mereka merasakan manfaat ekonomi secara langsung. Objek wisata yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ini telah menciptakan sistem insentif yang adil dan transparan.
Setiap enam bulan, warga menerima insentif atau upah yang disesuaikan dengan pendapatan objek wisata dan tingkat partisipasi mereka. Insentif ini dibagikan berdasarkan kehadiran dalam kegiatan gotong royong, yang rata-rata diselenggarakan 14 kali dalam periode enam bulan tersebut. Sistem ini mendorong partisipasi aktif dan rasa memiliki.
Besaran insentif bervariasi, menunjukkan keadilan berbasis kontribusi. Ada krama yang menerima hingga Rp 689 ribu jika hadir 13 kali, sementara yang hadir 10 kali menerima Rp 510 ribu. Model ini berbeda dari aturan banjar adat biasanya yang mengenakan denda bagi ketidakhadiran, menciptakan dampak positif bagi seluruh anggota komunitas.
Kebebasan Iuran Adat, Ringankan Beban Rumah Tangga
Manfaat dari Taman Sari Waterfall tidak hanya berhenti pada insentif tunai. Krama Banjar Adat Ngenjung Sari yang terdiri dari sekitar 130 kepala keluarga kini juga dibebaskan dari kewajiban iuran atau “peturunan odalan” untuk empat pura yang mereka empon. Ini adalah perubahan signifikan yang sangat meringankan beban finansial mereka.
Sebelum adanya objek wisata ini, setiap kepala keluarga biasanya harus mengeluarkan iuran sekitar Rp 200 ribu per orang untuk setiap odalan, yang diadakan setiap enam bulan sekali. Jumlah ini, bagi sebagian besar keluarga, merupakan pengeluaran yang tidak sedikit. Kini, beban tersebut sepenuhnya ditanggung dari keuntungan pengelolaan wisata.
Menurut Marketing Taman Sari Waterfall, I Nyoman Padma Mandala, keuntungan dari objek wisata ini juga dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan pura. Dengan demikian, warga tidak hanya bebas iuran, tetapi juga merasakan langsung bagaimana pariwisata berkontribusi pada pelestarian adat dan budaya mereka.
Baca Juga:Â Tragedi di Tukad Gangga: Kebakaran Rumah Tewaskan 1 Orang
Daya Tarik Taman Sari Waterfall
Taman Sari Waterfall kini telah dikenal luas, menarik wisatawan mancanegara, domestik, hingga lokal Bali. Rata-rata kunjungan mencapai 200 hingga 300 wisatawan per hari. Popularitas ini bukan tanpa alasan, mengingat objek wisata ini menawarkan keindahan alam yang memukau dengan aksesibilitas yang sangat baik.
Dari area parkir, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 2 hingga 3 menit melalui jalur yang landai untuk mencapai air terjun. Selain pesona air terjunnya, objek ini juga dilengkapi dengan kolam alami yang jernih, bersumber langsung dari mata air Pura Beji. Tersedia pula kolam khusus untuk anak-anak, menjadikannya destinasi ramah keluarga.
Lokasi Taman Sari Waterfall juga sangat strategis. Relatif dekat dengan Ubud dan menjadi gerbang menuju Kintamani, Bangli, menjadikannya pilihan menarik bagi wisatawan yang menjelajahi Bali tengah. Kemudahan akses dan daya tarik alam yang lengkap menjadi kunci sukses objek wisata ini dalam menarik pengunjung.
Model Pariwisata Berkelanjutan
Kisah sukses Taman Sari Waterfall di Ngenjung Sari adalah contoh nyata bagaimana pariwisata dapat menjadi kekuatan pendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat lokal secara langsung dalam pengelolaan dan pembagian manfaat, objek wisata ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Ini adalah model pariwisata yang menginspirasi.
Model ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan budaya. Keterlibatan aktif dalam gotong royong dan pembebasan iuran adat secara langsung berkontribusi pada pelestarian tradisi. Ini adalah bukti bahwa pariwisata dan budaya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dampak positif yang holistik.
Pariwisata “kembali ke masyarakat” bukan hanya sekadar slogan di Taman Sari Waterfall. Ini adalah filosofi yang diterapkan dengan baik, memberikan harapan dan manfaat nyata bagi ribuan jiwa. Harapannya, model pengelolaan ini dapat direplikasi di destinasi lain, menciptakan lebih banyak kisah sukses di seluruh Bali dan Indonesia.
Jangan lewatkan update berita seputaran Bali Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari bali.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari travelspromo.com