Di tengah hiruk pikuk modernisasi, Desa Adat Serangan, Denpasar, Bali, tetap teguh memegang tradisi luhur masyarakat setempat.
Sekitar 2.000 warganya baru-baru ini terlibat dalam upacara “Memintar” yang penuh makna, berjalan kaki sejauh 4,7 kilometer menyusuri pesisir dan pura-pura suci. Ritual tahunan ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah manifestasi keyakinan mendalam sebagai upaya tolak bala, memohon keselamatan, dan menjaga keharmonisan desa. Tradisi yang berakar sejak tahun 1950 ini terus dilestarikan, menunjukkan kuatnya ikatan spiritual dan komunitas di Pulau Dewata.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Bali di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Bali Indonesia.
Jejak Sejarah “Memintar”, Berawal Dari Wabah, Berlanjut Jadi Tradisi
Tradisi Memintar di Desa Serangan memiliki akar sejarah yang kuat, dimulai pada tahun 1950. Zefri Alfaruqy, Kepala Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), menjelaskan bahwa ritual ini pertama kali digelar sebagai respons terhadap wabah penyakit yang menyerang desa kala itu. Ini menjadi upaya kolektif masyarakat untuk memohon perlindungan.
Memintar, yang secara harfiah berarti ‘memutar’ atau ‘mengelilingi’, merupakan sebuah ritual tolak bala. Tujuannya adalah membersihkan desa dari energi negatif, penyakit, dan hal-hal buruk lainnya. Masyarakat percaya bahwa dengan mengelilingi wilayah desa, mereka dapat menciptakan benteng spiritual dari segala ancaman.
Seiring berjalannya waktu, ritual Memintar berevolusi dari respons darurat menjadi tradisi tahunan yang diwariskan turun-temurun. Selain sebagai tolak bala, kini upacara ini juga menjadi doa bersama. Masyarakat memohon agar desa tetap aman, kondusif, dan diberkahi ketenteraman.
Mengikuti Jejak Prosesi, Perjalanan Spiritual Mengelilingi Pura
Prosesi Memintar dimulai dari titik sakral, yaitu Pura Desa. Dari sana, ribuan warga memulai perjalanan spiritual mereka, melangkah bersama dalam harmoni. Setiap langkah memiliki makna, setiap doa dipanjatkan dengan penuh harap.
Rute perjalanan membawa mereka menuju pantai, menyusuri pesisir yang diyakini memiliki kekuatan pembersihan. Kemudian, iring-iringan memasuki kawasan PT BTID, sebuah area yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual ini. Ini menunjukkan integrasi antara tradisi lokal dan perkembangan modern.
Puncak perjalanan spiritual adalah mengelilingi delapan pura yang tersebar di kawasan BTID. Setelah menyelesaikan ritual di setiap pura, rombongan keluar melalui pintu kawasan KEK Kura-Kura Bali. Setiap pura yang dikunjungi memiliki peranan dan makna tersendiri dalam rangkaian upacara ini.
Baca Juga: Longsor Terjang Bangli, Akses Jalan Hingga Rumah Warga Rusak
Inklusivitas Dan Komitmen Pelestarian Budaya
Zefri Alfaruqy dari PT BTID menegaskan bahwa kegiatan Memintar juga menjadi simbol inklusivitas dan kolaborasi antara perusahaan dengan masyarakat Serangan. PT BTID tidak hanya mendukung, tetapi berkomitmen penuh untuk melestarikan tradisi spiritual dan budaya yang kaya ini. Kemitraan ini menunjukkan hubungan yang harmonis.
Kegiatan spiritual dan budaya ini terbuka bagi semua, termasuk karyawan dari Kura-Kura Bali dan keluarga mereka. Ini memperkaya pengalaman budaya, memperkuat rasa kebersamaan, dan memungkinkan partisipasi yang lebih luas. Inklusivitas ini menjaga agar tradisi tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat yang beragam.
Dukungan dari PT BTID terhadap upacara Memintar merupakan contoh bagaimana sektor swasta dapat berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya. Komitmen ini tidak hanya tentang dana, tetapi juga tentang pengakuan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
Nilai Luhur “Memintar”, Harmoni, Doa, Dan Kebersamaan
Upacara Memintar melambangkan harmoni antara manusia dengan alam dan Tuhan. Melalui perjalanan fisik dan spiritual, masyarakat Desa Serangan merefleksikan hubungan mereka dengan lingkungan dan kekuatan ilahi. Ini adalah perwujudan nyata dari konsep Tri Hita Karana.
Setiap langkah dalam Memintar adalah doa. Doa untuk keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan seluruh komunitas. Ribuan warga yang berjalan bersama menciptakan energi positif, memperkuat keyakinan kolektif, dan mempererat tali persaudaraan.
Lebih dari sekadar ritual, Memintar adalah perayaan kebersamaan. Ini adalah momen di mana seluruh desa bersatu, meninggalkan perbedaan, dan fokus pada tujuan bersama. Tradisi ini menjaga identitas budaya Serangan dan memastikan bahwa nilai-nilai luhur akan terus hidup.
Jangan lewatkan update berita seputaran Bali Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari perspectivesnews.com
- Gambar Kedua dari baliportalnews.com