Cok Ace mengusulkan agar jalan-jalan di Ubud, Bali, menggunakan nama-nama seniman lokal dan internasional untuk menghormati karya mereka.
Namun, identitas visualnya kini diusulkan untuk diperkuat melalui sebuah perubahan signifikan: penamaan jalan dengan nama-nama seniman legendaris. Ide ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan upaya visioner untuk lebih menegaskan karakter Ubud sebagai desa seniman, mengukuhkan warisan budaya, dan menginspirasi generasi mendatang.
Inisiatif ini datang dari sosok yang sangat peduli terhadap pelestarian budaya Bali. Berikut ini, Bali Indonesia akan menyelami lebih dalam usulan menarik ini dan dampaknya terhadap citra Ubud di mata dunia.
Usulan Baru Untuk Nama Jalan Di Ubud
Ketua PHRI Bali, Tjok Oka Artha Ardana Sukawati, atau yang akrab disapa Cok Ace, mengemukakan sebuah gagasan inovatif. Ia mengusulkan agar nama-nama jalan di Ubud, Gianyar, Bali, diubah menggunakan nama-nama seniman terkemuka. Usulan ini disampaikan langsung kepada Menteri Pariwisata. Widiyanti Putri Wardhana, dalam kunjungannya ke Puri Saren Ubud pada Kamis, 1 Januari 2026.
Sebelumnya, nama-nama jalan di Ubud didominasi oleh nama bunga atau tokoh pewayangan, seperti Jalan Sandat, Jalan Jepun, Jalan Arjuna, dan Jalan Hanuman. “Kami mengusul nama-nama tersebut kami akan ganti dengan nama-nama tokoh-tokoh seniman Nyoman Lempad, Rudolf Bonnet dan lain sebagainya,” jelas Cok Ace.
Perubahan ini diharapkan dapat memberikan nuansa baru yang lebih kuat bagi Ubud sebagai “desa seniman.” Dengan mengabadikan nama-nama seniman besar, identitas kultural Ubud akan semakin terpahat, menjadikannya lebih mudah diingat dan dikenal secara global sebagai pusat kreativitas.
Mengukuhkan Ubud Sebagai “Desa Seniman”
Cok Ace menjelaskan bahwa penggantian nama jalan ini bertujuan untuk mempertegas posisi Ubud sebagai magnet bagi para pecinta seni dan budaya. Nama-nama seperti I Gusti Nyoman Lempad, seorang maestro seni lukis dan patung Bali, serta Rudolf Bonnet, seniman Belanda yang banyak berkarya di Ubud, akan menghiasi plang jalan.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat citra Ubud di mata wisatawan domestik maupun mancanegara. Setiap sudut jalan akan menjadi pengingat akan kekayaan sejarah seni yang dimiliki Ubud, sekaligus memberikan penghormatan abadi kepada para individu yang telah berjasa mengangkat nama Bali di kancah seni internasional.
Inisiatif ini bukan hanya tentang penamaan ulang, tetapi juga tentang branding dan penceritaan. Setiap nama seniman yang terpilih akan membawa narasi dan warisan yang dapat memperkaya pengalaman pengunjung, menjadikan kunjungan ke Ubud lebih dari sekadar berwisata, melainkan sebuah perjalanan edukasi budaya.
Baca Juga: Satpol PP Hentikan Pengerukan Bukit di Dawan, Ancaman Lingkungan
Tantangan Infrastruktur Di Tengah Budaya Ubud
Di samping usulan penamaan jalan, Cok Ace juga menyoroti beberapa tantangan infrastruktur yang dihadapi Ubud sebagai destinasi pariwisata berbudaya. Salah satu masalah yang kerap muncul adalah saat berlangsungnya upacara adat seperti pengabenan. Di mana prosesi seringkali terhambat oleh keberadaan tiang listrik, kabel, atau trotoar yang rusak.
“Kami menggotong tempat jenazah dalam posisi lebar terganggu oleh trotoar (yang rusak),” ungkapnya. Kondisi trotoar yang tidak memadai menjadi hambatan serius bagi pelaksanaan upacara yang membutuhkan ruang gerak luas. Serta berpotensi mengganggu kekhidmatan ritual keagamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Ubud.
Permasalahan ini telah disampaikan kepada Kepala Dinas PU untuk segera ditindaklanjuti. Pembenahan infrastruktur, khususnya trotoar, menjadi krusial agar kegiatan kebudayaan dapat berlangsung lancar tanpa hambatan. Sekaligus menjaga kenyamanan dan keamanan warga serta wisatawan.
Menjaga Warisan Ubud Untuk Masa Depan
Cok Ace menegaskan komitmennya untuk terus memohon agar Ubud dan Bali pada umumnya dapat tetap eksis sebagai destinasi pariwisata favorit dunia. Penjagaan dan pelestarian budaya serta alam menjadi prioritas utama demi mewariskan keindahan ini kepada anak cucu.
Pengembangan pariwisata di Ubud harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan pelestarian budaya. Ini berarti pembangunan infrastruktur harus mendukung, bukan menghalangi, praktik budaya lokal. Sinkronisasi antara pariwisata dan tradisi adalah kunci.
Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan. Diharapkan Ubud dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai pusat seni dan budaya yang otentik. Nama-nama jalan baru hanyalah salah satu langkah kecil dalam perjalanan besar ini.
Jangan lewatkan update berita seputaran Bali Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari denpasar.kompas.com
- Gambar Kedua dari bali.tribunnews.com