Banjir parah melanda Bali, mengancam wisatawan dan industri pariwisata, menimbulkan kekhawatiran serius bagi ekonomi lokal.
Cuaca ekstrem dan banjir di Bali berdampak serius pada pariwisata. Genangan air dan akses terganggu mengancam citra Pulau Dewata, sementara penurunan kunjungan wisatawan menjadi alarm bagi keberlanjutan industri ini. Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Bali di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Bali Indonesia.
Badai Kecemasan di Pulau Dewata
Banjir yang sering terjadi di Bali menimbulkan kekhawatiran wisatawan. Ketua PHRI Denpasar, IB Gede Agung Sidharta Putra, menyebut kunjungan turun 35-40% dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini kontras dengan okupansi hotel November-Desember 2024 yang masih 75-80%, menunjukkan dampak cuaca ekstrem yang tiba-tiba.
Persepsi keamanan menjadi faktor krusial. Hujan lebat yang singkat kini memicu banjir dan gangguan akses, mengurangi rasa aman serta nyaman bagi pengunjung. Akibatnya, banyak wisatawan mempertimbangkan menunda perjalanan atau mengalihkan tujuan ke destinasi lain yang dianggap lebih aman dan kering, seperti Pasifik atau Australia, mengikis daya tarik Bali.
Penurunan ini bukan hanya akibat cuaca ekstrem semata. Gus De menyoroti akumulasi sentimen negatif, termasuk kemacetan lalu lintas, masalah sampah, dan overkapasitas di beberapa destinasi. Isu-isu ini jika terus berulang, berpotensi memicu peringatan perjalanan dari negara asal wisatawan, memberikan dampak jangka panjang yang merugikan.
Mitigasi Bencana Dan Penanganan Sampah Mendesak
Kesiapan pemerintah dalam mitigasi bencana menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi. Gus De mendesak pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipasi, mulai dari pembersihan saluran air dan pengelolaan sampah yang lebih efektif. Koordinasi lintas instansi seperti BPBD dan fasilitas kesehatan juga harus ditingkatkan.
Kesiapan infrastruktur dan sistem penanganan darurat saat banjir sangat krusial. Alat evakuasi, akses rumah sakit, dan respons cepat harus terjamin untuk meyakinkan wisatawan akan keamanan Bali. Langkah-langkah konkret ini penting demi menjaga reputasi Bali sebagai destinasi yang siap dan aman dalam menghadapi situasi darurat.
Persoalan pengelolaan sampah, khususnya, menjadi pemicu utama banjir. Penutupan atau keterbatasan fasilitas TPA tanpa solusi alternatif yang jelas memperparah kondisi, menyebabkan penumpukan sampah di selokan. PHRI Denpasar berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret untuk mengatasi banjir, sampah, dan kemacetan secara konsisten.
Baca Juga: Bencana Landa Karangasem Bali, Ibu dan Anak Tewas Terseret Banjir Bandang
Dampak Akumulatif Dan Degradasi Lingkungan
Prof. Dr. I Nyoman Sunarta, Guru Besar Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan Universitas Udayana, menjelaskan bahwa dampak banjir bersifat akumulatif dan jangka panjang. Meskipun wisatawan yang telah memesan tiket kemungkinan tetap datang, banjir memengaruhi pilihan lokasi menginap dan persepsi kenyamanan. Mereka cenderung menghindari area rawan banjir seperti Canggu.
Jika masalah lingkungan tidak segera dibenahi, citra Bali sebagai destinasi alam dan budaya akan terus tergerus. Kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali menyebabkan banjir semakin parah. Prof. Sunarta menekankan bahwa banjir bukan hanya masalah cuaca, melainkan kerusakan fundamental pada lingkungan Bali.
Degradasi lingkungan ini berdampak langsung pada kualitas pariwisata. Bagaimana Bali dapat mengusung “quality tourism” jika alamnya rusak dan budaya terdampak? Rusaknya lingkungan berarti ruang hidup masyarakat lokal pun bermasalah, sehingga kualitas pariwisata budaya yang dijual menjadi dipertanyakan.
Menuju Pariwisata Berkelanjutan Yang Berkualitas
Pemerintah didorong untuk tidak lagi fokus pada kuantitas kunjungan, melainkan tegas memperbaiki tata ruang dan menghentikan alih fungsi lahan berlebihan. Menuntaskan persoalan banjir dari hulunya adalah prioritas. Bali harus menjadi destinasi yang dihormati, bukan hanya dikunjungi, bahkan jika langkah ini tidak populer.
Ketua Ikatan Doktor Pariwisata Unud ini menegaskan perlunya komitmen bersama untuk mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Bali harus dihormati, artinya semua pihak wajib menjaga alam, budaya, dan tatanan sosial. Komitmen ini harus menjadi arah kebijakan lintas sektor, termasuk dalam politik pembangunan.
Paradigma “semakin banyak wisatawan semakin baik” tidak lagi relevan. Membuka pintu Bali terlalu lebar justru mempercepat kerusakan lingkungan dan menurunkan kualitas destinasi. Lebih baik Bali membatasi pertumbuhan kunjungan dan menata kualitas pariwisata untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, dan masyarakat lokal.
Jangan lewatkan update berita seputaran Bali Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari balipost.com
- Gambar Kedua dari tourismforus.com